Tulungagung, 24 April 2025 – Sebagai bentuk kepedulian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan pendidikan tinggi, DEMA FTIK UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sukses menyelenggarakan Seminar Kesehatan Mental pada Kamis, 24 April 2025. Bertempat di Aula Gedung Saifuddin Zuhri, acara ini mengusung tema “Dari Trauma ke Pemulihan: Menguak Depresi Akibat Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan Tinggi.” Seminar dibuka secara resmi dengan sambutan dari Ketua Panitia, Ketua DEMA FTIK 2025, serta perwakilan dekanat FTIK, yang semuanya menekankan pentingnya membangun lingkungan kampus yang aman, sadar, dan mendukung pemulihan korban kekerasan seksual.

Materi pertama disampaikan oleh Evi Tunjung Fitriani, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.Kep.J, yang membahas tentang Stigma Sosial dan Budaya Bungkam di Lingkungan Kampus. la menyoroti bagaimana norma sosial dan budaya di masyarakat kerap kali membuat korban kekerasan seksual memilih diam, bahkan menyalahkan diri sendiri. Evi mengajak audiens untuk berani mematahkan budaya bungkam tersebut dan menciptakan ruang aman di lingkungan akademik.
Sesi berikutnya dilanjutkan oleh dr. Predito Prihantoro, Sp.KJ dengan materi Proses Pemulihan Mental dan Peran Lingkungan Kampus. Dalam paparannya, dr. Predita menjelaskan bahwa dukungan emosional dan sosial sangat berperan dalam proses pemulihan korban. la menekankan pentingnya peran teman sebaya, organisasi mahasiswa, dan dosen dalam menciptakan atmosfer kampus yang empatik dan tidak menghakimi. Materi terakhir disampaikan oleh dr. Cinta Ayu Abutari, Sp.And, yang mengulas tentang Dampak Kekerasan Seksual terhadap Kesehatan Seksual dan Reproduksi, la menjelaskan bahwa trauma tidak hanya menyerang mental, tetapi juga memengaruhi kesehatan fisik, seperti gangguan hormon dan sistem reproduksi yang terganggu akibat tekanan psikologis berkepanjangan.
Sebagai penutup, peserta diajak mengikuti permainan edukatif Kahoot yang disambut dengan antusias. Usai sesi tanya jawab, seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat dan hadiah kepada pemateri serta peserta terbaik, lalu diakhiri dengan foto bersama. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mendorong terciptanya kampus yang aman dan berpihak pada korban.