Tulungagung, 21 Februari 2025 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung menggelar Yudisium Sarjana Ke-42 dengan tema “Transformasi Pendidikan dalam Meningkatkan Integritas Lulusan FTIK untuk Menyongsong Indonesia Emas”. Acara yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh 306 peserta yang telah menyelesaikan studi dan siap berkontribusi dalam dunia pendidikan.
Acara diawali dengan sambutan perwakilan mahasiswa yang mengajak para lulusan untuk terus belajar dan berkontribusi bagi masyarakat. “Belajar adalah kunci untuk menjalani kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain. Kegagalan bukanlah akhir, tetapi bagian dari proses menuju keberhasilan,” ungkapnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, termasuk rektorat, dekanat, dosen, dan tenaga kependidikan, yang telah mendukung perjalanan akademik para lulusan hingga mencapai tahap ini.
Dekan FTIK, dalam sambutannya, menegaskan bahwa para lulusan harus menjadi duta fakultas dalam menyebarluaskan informasi tentang program studi UIN SATU Tulungagung. “Kolaborasi yang baik di antara seluruh elemen fakultas akan memungkinkan FTIK memberikan layanan pendidikan terbaik,” ujarnya. Ia juga menegaskan komitmen FTIK dalam mewujudkan zona integritas sebagai wilayah bebas dari korupsi.

Sementara itu, Rektor UIN SATU Tulungagung menargetkan 70% program studi di universitas ini mencapai predikat unggul dalam waktu dekat. Ia juga mengingatkan para calon pendidik tentang pentingnya membangun karakter sebelum mendidik orang lain. “Mendidik diri sendiri adalah langkah pertama sebelum mendidik generasi bangsa,” tegasnya.

Acara berlanjut dengan orasi ilmiah oleh Prof. Dr. Ahmad Arifi, M.Ag., Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa Fakultas Tarbiyah merupakan pilar utama pendidikan di PTKIN, dan lulusan FTIK memiliki peran sentral dalam mendorong transformasi pendidikan. “Transformasi pendidikan adalah proses yang berkelanjutan. Kita harus siap beradaptasi dengan tantangan zaman,” jelasnya.

Beliau juga menyoroti berbagai tantangan dalam transformasi pendidikan, termasuk akses teknologi yang semakin esensial dalam dunia pendidikan, kemampuan literasi digital yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik untuk menghadapi era digital, dan kualitas konten pembelajaran yang harus terus ditingkatkan agar relevan dengan perkembangan zaman.

Di tengah era disrupsi digital, Prof. Arifi menekankan bahwa kemajuan teknologi membuka peluang besar dalam dunia pendidikan, seperti akses yang lebih luas dan pembelajaran yang lebih fleksibel. Untuk itu, ia mendorong peningkatan pelatihan berbasis teknologi bagi tenaga pendidik agar mereka mampu menghadapi dinamika pendidikan masa depan (admin_ftik/UH).