NGOPI FTIK UIN SATU di Blitar: Membangun Generasi Qur’ani yang Adaptif terhadap Perubahan Global

Kontributor:

Blitar, 24 Oktober 2026 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) menyelenggarakan kegiatan NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) bertema “Membangun Generasi Qur’ani yang Adaptif terhadap Perubahan Global” pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di halaman Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Mantenan, Udanawu, Blitar, ini menjadi ruang dialog dan penguatan wawasan tentang pentingnya membangun generasi yang mencintai Al-Qur’an, memahami kandungannya, serta mampu menghadapi dinamika perubahan global.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh pimpinan FTIK UIN SATU, yakni Wakil Dekan I, Dr. Khoirul Anam, M.Pd.I., serta H. Lutfi Aziz, S.T., anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blitar. Hadir sebagai narasumber 1, KH. An’im Falachuddin Mahrus, M.Pd., anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi PKB, dan narasumber 2 adalah KH. M. Shonhaji Nawal Karim Zubaidi dari Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Mantenan, Udanawu, Blitar. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan doa yang dipimpin oleh KH. Irham Zaini.

Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta sambutan dari para tamu yang hadir. Rangkaian pembukaan tersebut menandai pentingnya menyelaraskan semangat kebangsaan dengan nilai-nilai keislaman dalam membangun kualitas pendidikan dan karakter generasi muda.

Dalam sambutan pertama, Wakil Dekan I FTIK UIN SATU, Dr. Khoirul Anam, M.Pd.I., menyampaikan komitmen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam mengembangkan generasi Qur’ani melalui program pendidikan keagamaan di lingkungan kampus. Salah satu bentuk komitmen tersebut diwujudkan melalui program madrasah diniyah bagi mahasiswa baru semester satu dan semester dua.

Program ini menjadi bagian dari upaya penguatan pemahaman keagamaan mahasiswa, sehingga pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan kompetensi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter serta penghayatan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Komitmen tersebut relevan dengan tantangan pendidikan masa kini. Di tengah perkembangan teknologi, arus informasi, dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, generasi muda membutuhkan landasan nilai yang kuat agar mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas, integritas, dan orientasi moral.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh H. Lutfi Aziz, S.T., anggota DPRD Kabupaten Blitar. Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya penggunaan kewenangan dan kekuasaan untuk melahirkan kebijakan yang berpihak pada kebaikan serta kesejahteraan masyarakat luas. Salah satu bentuk kontribusi yang dapat dilakukan ialah mendukung penguatan budaya cinta Al-Qur’an di tengah masyarakat. Pesan tersebut menegaskan bahwa pembangunan generasi Qur’ani memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Lembaga pendidikan, pesantren, pemerintah, wakil rakyat, keluarga, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya kecintaan terhadap Al-Qur’an.

Memasuki sesi inti, narasumber pertama, KH. An’im Falachuddin Mahrus, M.Pd.I., anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi PKB, menyampaikan materi mengenai pentingnya menghasilkan generasi yang hafal Al-Qur’an sekaligus memahami tafsirnya. Pembahasan tersebut menempatkan interaksi dengan Al-Qur’an sebagai proses pendidikan yang tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal. Pemahaman terhadap makna serta kandungan ayat menjadi bagian penting agar nilai-nilai Al-Qur’an dapat dipelajari, dihayati, dan diterapkan dalam kehidupan.

Generasi yang menghafal Al-Qur’an memiliki modal penting dalam menjaga kedekatan dengan kitab suci. Namun, pemahaman terhadap tafsir juga diperlukan untuk membantu mereka mengenali pesan, konteks, dan tuntunan yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat berkembang menjadi kesadaran untuk menjadikan nilai-nilai Qur’ani sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

Dalam konteks perubahan global, penguatan kemampuan menghafal dan memahami Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda. Mereka diharapkan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara terbuka, sekaligus memiliki pijakan moral dan spiritual ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Perspektif tersebut selaras dengan tema NGOPI yang menempatkan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi dalam mempersiapkan generasi yang adaptif. Adaptif bukan sekadar mampu mengikuti perubahan, melainkan juga memiliki kemampuan menyikapi perubahan secara bijaksana dengan berlandaskan nilai, pengetahuan, dan tanggung jawab.

Materi berikutnya disampaikan oleh KH. M. Shonhaji Nawal Karim Zubaidi dari Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Mantenan, Udanawu, Blitar. Ia mengangkat pentingnya menumbuhkan kecintaan terhadap aktivitas membaca Al-Qur’an sekaligus membangun mimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kecintaan membaca Al-Qur’an merupakan salah satu fondasi pembentukan kebiasaan baik yang perlu ditanamkan sejak dini dan dipelihara secara berkelanjutan. Kebiasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan intensitas membaca, tetapi juga dengan tumbuhnya kedekatan spiritual, kesadaran beragama, dan keinginan untuk memahami ajaran Islam secara lebih mendalam.

Di sisi lain, dorongan untuk menempuh pendidikan tinggi menjadi pesan penting bagi generasi muda. Pendidikan dapat membuka kesempatan untuk memperluas wawasan, mengembangkan potensi diri, meningkatkan kompetensi, dan berkontribusi bagi masyarakat. Karena itu, latar belakang pendidikan dan lingkungan sosial semestinya tidak menjadi alasan untuk membatasi cita-cita. Pesan mengenai kecintaan terhadap Al-Qur’an dan pentingnya pendidikan tinggi juga memperlihatkan bahwa pendidikan keagamaan dan pendidikan formal dapat berjalan beriringan. Keduanya dapat saling menguatkan dalam membentuk generasi yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan pengetahuan, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

Melalui pesan tersebut, peserta diajak untuk memandang Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan yang mendampingi kehidupan spiritual, tetapi juga sebagai sumber nilai yang menginspirasi semangat belajar, kedisiplinan, dan pengembangan diri. Pada saat yang sama, pendidikan tinggi menjadi salah satu ruang strategis untuk memperluas kapasitas generasi muda agar mampu mengambil peran dalam masyarakat yang terus berkembang.

Kegiatan NGOPI dengan tema “Membangun Generasi Qur’ani yang Adaptif terhadap Perubahan Global” menghadirkan pesan bahwa pembentukan generasi masa depan membutuhkan perpaduan antara penguatan nilai-nilai keagamaan, pengembangan pengetahuan, dan kesiapan menghadapi perubahan. Pesantren memiliki peran penting dalam menanamkan tradisi keilmuan Islam, membangun kedisiplinan, serta membiasakan peserta didik berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sementara itu, perguruan tinggi memiliki ruang strategis untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan akademik, dan membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sinergi kedua lingkungan pendidikan tersebut menjadi penting agar generasi muda tidak hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu mengembangkan kapasitas intelektual dan sosialnya. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan global, generasi Qur’ani diharapkan mampu menyaring informasi secara kritis, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam mengambil keputusan.

Dalam kerangka tersebut, kegiatan NGOPI menjadi ruang dialog untuk mempertemukan gagasan mengenai pendidikan Islam, pembentukan karakter, budaya membaca Al-Qur’an, dan cita-cita pendidikan. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan yang mendukung lahirnya generasi berkarakter dan berwawasan luas. Rangkaian kegiatan NGOPI ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Irham Zaini. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama peserta dan para tamu yang hadir sebagai penutup kegiatan.

Melalui penyelenggaraan NGOPI di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Mantenan, Udanawu, Blitar, pesan tentang pentingnya membangun generasi Qur’ani kembali mendapatkan ruang untuk didiskusikan bersama. Generasi yang diharapkan bukan hanya generasi yang mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an, melainkan juga berupaya memahami maknanya, mencintai ilmu pengetahuan, berani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan mampu merespons perubahan global secara bijaksana.

Pada akhirnya, membangun generasi Qur’ani yang adaptif merupakan ikhtiar berkelanjutan yang membutuhkan keteladanan, pendidikan, pembiasaan, serta kolaborasi berbagai pihak. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan nilai dan pendidikan sebagai sarana pengembangan potensi, generasi muda diharapkan mampu menghadapi masa depan tanpa kehilangan arah moral dan spiritualnya. (Penulis: Nanang Purwanto, Fotografer: Yudi Widodo)

Skip to content