KEDIRI, 19 Oktober 2026 — Kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat menjadi salah satu isu penting dalam upaya membentuk kepribadian anak yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Persoalan tersebut menjadi fokus kegiatan Ngopi (Ngobrol Mutu Pendidikan Islam) bertema “Kolaborasi Guru, Orang Tua, dan Masyarakat dalam Mewujudkan Pendidikan Islam Berkualitas” yang diselenggarakan pada 19 Oktober 2026 di Aula Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Kegiatan yang diikuti sekitar 200 peserta ini menghadirkan Anggota DPR RI Komisi VIII dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH. An’im Falachuddin Makrus, M.Pd.I, serta Dr. Nur Solikin, M.MA., dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri. Pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung turut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Forum ini mengangkat persoalan penting dalam pendidikan, yakni perlunya keterlibatan yang lebih erat antara lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mendampingi perkembangan anak. Pembentukan kepribadian tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pola asuh di rumah dan interaksi sosial di lingkungan masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari pihak FTIK UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Setelah itu, peserta mengikuti pemaparan materi pertama yang disampaikan KH. An’im Falachuddin, M.Pd., dengan judul “Pentingnya Menjaga Identitas Diri sebagai Contoh yang Baik Bagi Anak Didik”.

Dalam pemaparannya, narasumber menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadis sebagai landasan untuk menjelaskan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak. Pendekatan tersebut menempatkan pendidikan anak sebagai tanggung jawab yang berkaitan erat dengan nilai-nilai agama dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan menjadi aspek penting karena anak tidak hanya belajar melalui penjelasan verbal, tetapi juga mengamati perilaku orang dewasa di sekitarnya. Sikap, kebiasaan, dan cara orang tua maupun guru berinteraksi dapat menjadi bagian dari lingkungan yang membentuk karakter anak.
Dalam konteks pendidikan Islam, upaya membangun kepribadian anak karena itu perlu ditunjang oleh keselarasan antara nilai yang diajarkan dan perilaku yang dicontohkan. Pesan mengenai tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak juga menegaskan pentingnya keterlibatan keluarga dalam proses pendidikan, bukan semata-mata menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada lembaga pendidikan.
Materi kedua disampaikan Dr. Nur Solikin, M.MA., dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri, dengan topik kolaborasi guru, orang tua, dan masyarakat dalam mewujudkan pendidikan Islam. Topik ini melengkapi pembahasan sebelumnya dengan menempatkan pendidikan sebagai tanggung jawab bersama. Guru berperan dalam memfasilitasi pembelajaran dan membimbing perkembangan peserta didik, orang tua mendukung pembentukan kebiasaan serta karakter anak di lingkungan keluarga, sedangkan masyarakat turut menyediakan lingkungan sosial yang mendukung penerapan nilai-nilai positif.

Kolaborasi di antara ketiga unsur tersebut penting agar anak memperoleh arahan yang konsisten dalam berbagai lingkungan kehidupannya. Nilai-nilai yang diperkenalkan di sekolah, misalnya, perlu memperoleh penguatan melalui pembiasaan di rumah dan interaksi yang sehat di masyarakat.
Pembahasan ini juga relevan dengan tantangan pendidikan di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, tanggung jawab, serta kemampuan anak dalam menyikapi perubahan secara bijaksana.
Oleh karena itu, pendidikan Islam berkualitas tidak cukup dipahami sebagai pencapaian akademik semata. Pembentukan kepribadian yang baik, penguatan nilai moral, dan pengembangan kecerdasan perlu mendapat perhatian secara seimbang melalui dukungan lingkungan pendidikan yang saling terhubung.
Sekitar 200 peserta mengikuti kegiatan Ngopi dengan aktif dan penuh perhatian. Mereka memperoleh wawasan mengenai pendampingan anak, tanggung jawab orang tua, keteladanan, serta pentingnya kerja sama berbagai pihak dalam pendidikan Islam. Keterlibatan peserta menjadi salah satu indikasi bahwa tema yang dibahas memiliki relevansi bagi kalangan pendidik, keluarga, dan masyarakat. Meski demikian, dampak kegiatan terhadap perubahan pola pengasuhan, praktik pembelajaran, maupun perkembangan karakter anak masih memerlukan tindak lanjut dan evaluasi tersendiri.
Agar pembahasan tidak berhenti pada forum diskusi, kolaborasi pendidikan dapat ditindaklanjuti melalui komunikasi rutin antara guru dan orang tua, penyelarasan pembiasaan karakter di sekolah dan rumah, serta pelibatan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Bentuk tindak lanjut tersebut merupakan rekomendasi yang relevan dengan tema kegiatan, bukan klaim bahwa seluruhnya telah dilaksanakan.
Kegiatan Ngopi kemudian ditutup setelah seluruh rangkaian acara dan pemaparan materi selesai. Melalui forum ini, pentingnya kolaborasi dalam pendidikan Islam kembali menjadi perhatian. Tantangan membentuk generasi yang berkarakter baik sekaligus cakap menghadapi perkembangan IPTEK membutuhkan keterlibatan yang berkesinambungan dari guru, orang tua, dan masyarakat. Sinergi tersebut menjadi salah satu landasan untuk membangun pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan, tetapi juga menumbuhkan kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. (Penulis: Nanang Purwanto, Fotografer: Rini Fitriani)