BLITAR, 18 Oktober 2026 — Semangat menuntut ilmu tidak seharusnya berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal. Belajar perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari agar masyarakat mampu terus mengembangkan diri dan menghadapi perubahan zaman. Pesan tersebut menjadi fokus kegiatan Ngopi (Ngobrol Pendidikan Islam) bertema “Membangun Budaya Belajar Sepanjang Hayat dalam Pendidikan Islam” yang berlangsung di Aula Hand Asta Sih, Blitar, Minggu (18/10/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 300 peserta ini menghadirkan Anggota DPR RI Komisi VIII dari Fraksi Partai Gerindra, Ir. Endro Hermono, M.B.A., sebagai Narasumber 1 dan Showan Hadi, M.Si., dosen UIN Kyai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sebagai narasumber 2. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Dr. Sutopo, M.Pd., turut memberikan sambutan dalam rangkaian acara.

Forum tersebut mengangkat pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), kemampuan untuk memperoleh pengetahuan baru, memperbarui keterampilan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Dekan FTIK UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Dr. Sutopo, M.Pd. Agenda berikutnya adalah pemaparan materi oleh Narasumber 1, Bapak Ir. Endro Hermono, M.B.A., Anggota DPR RI Komisi VIII dari Fraksi Partai Gerindra. Materi yang disampaikan mengangkat tema “Membangun Budaya Belajar Sepanjang Hayat dalam Pendidikan Islam”.

Dalam penjelasan mengenai pentingnya menuntut ilmu, narasumber menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadis sebagai landasan keagamaan. Pendekatan ini menempatkan kegiatan belajar bukan sekadar sebagai kebutuhan untuk memperoleh ijazah atau memenuhi tuntutan pekerjaan, melainkan sebagai bagian dari upaya manusia mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki kualitas kehidupannya.
Dalam perspektif pendidikan Islam, menuntut ilmu memiliki kedudukan penting. Semangat belajar perlu diwujudkan melalui kebiasaan mencari pengetahuan, memperluas wawasan, serta menerapkan ilmu secara bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya belajar sepanjang hayat juga menuntut keterbukaan terhadap pengetahuan dan pengalaman baru. Seseorang tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh pada masa sekolah atau perguruan tinggi, tetapi perlu terus belajar mengikuti perkembangan masyarakat, kebutuhan pekerjaan, dan perubahan teknologi.
Materi berikutnya disampaikan oleh Narasumber 2, Bapak Showan Hadi, M.Si., dosen UIN Kyai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, dengan topik budaya belajar sepanjang hayat dalam pendidikan Islam.
Pembahasan ini melengkapi materi pertama dengan menempatkan kebiasaan belajar sebagai proses yang berlangsung terus-menerus. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, madrasah, atau perguruan tinggi, tetapi juga melalui keluarga, lingkungan masyarakat, pengalaman kerja, dan interaksi sosial.

Bagi guru, semangat belajar sepanjang hayat dapat diwujudkan melalui pengembangan kompetensi, pembaruan pengetahuan, dan refleksi terhadap praktik pembelajaran. Bagi orang tua, kebiasaan tersebut dapat dimulai dengan memberikan contoh nyata kepada anak, seperti membaca, berdiskusi, mencari informasi yang tepercaya, dan terbuka terhadap pengetahuan baru.
Sementara itu, masyarakat dapat berkontribusi dengan menciptakan lingkungan yang mendukung pertukaran pengetahuan dan kegiatan belajar. Dengan demikian, belajar tidak dipandang sebagai aktivitas yang hanya dilakukan oleh peserta didik, tetapi sebagai kebutuhan bersama lintas usia dan latar belakang.
Tantangan perkembangan IPTEK semakin memperkuat relevansi pendekatan tersebut. Arus informasi yang cepat menuntut masyarakat tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga menilai kebenarannya, memahami manfaatnya, dan menggunakannya secara bijaksana.
Dalam konteks pendidikan Islam, pengembangan pengetahuan perlu berjalan seiring dengan pembentukan akhlak dan tanggung jawab. Penguasaan teknologi, misalnya, perlu ditunjang kemampuan menggunakan teknologi secara etis serta mempertimbangkan dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Sekitar 250 peserta mengikuti kegiatan Ngopi dengan aktif dan penuh perhatian. Melalui forum tersebut, peserta memperoleh wawasan mengenai pentingnya ilmu, kewajiban menuntut ilmu dalam perspektif Islam, dan perlunya membangun kebiasaan belajar secara berkelanjutan.
Partisipasi peserta menunjukkan jangkauan kegiatan yang cukup luas. Namun, untuk menilai dampaknya secara lebih mendalam, diperlukan informasi tambahan mengenai latar belakang peserta, tanggapan mereka terhadap materi, serta tindak lanjut yang dilakukan setelah kegiatan.
Upaya membangun budaya belajar sepanjang hayat tidak cukup berhenti pada penyampaian materi dalam sebuah forum. Kebiasaan belajar perlu diperkuat melalui tindakan nyata, seperti menyediakan waktu untuk membaca, mengikuti kegiatan pengembangan kompetensi, membangun diskusi yang produktif, dan memanfaatkan sumber belajar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat memiliki ruang untuk saling mendukung dalam membangun kebiasaan tersebut. Lingkungan yang menghargai proses belajar dapat membantu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemauan memperbaiki diri, dan kesiapan menghadapi perubahan.

Rangkaian kegiatan Ngopi ditutup setelah seluruh agenda pemaparan materi selesai. Melalui kegiatan ini, budaya belajar sepanjang hayat menjadi tema penting untuk terus diperhatikan dalam pengembangan pendidikan Islam. Tantangan perubahan zaman membutuhkan masyarakat yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kemauan untuk terus belajar, memperbarui pemahaman, dan menggunakan ilmunya secara bertanggung jawab. Menjadikan belajar sebagai kebiasaan sepanjang kehidupan merupakan salah satu langkah untuk memperkuat kualitas individu sekaligus membangun masyarakat yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Penulis dan Fotografer: Nanang Purwanto)
